Yuk Intip Petani Sulap Lahan Pertanian Jadi “Pabrik” Batu Bata Merah

Kekeringan yang menempa daerah Kabupaten Lombok tengah (Loteng) membuat hampir semua tempat pertanian di wilayah ini tidak dapat ditanam lagi. Mengakibatkan, beberapa petani harus memutar otak untuk dapat terus bertahan, untuk dapat penuhi keperluan ekonomi keluarga. Banyak salah satunya yang selanjutnya memutuskan pindah karier jadi pekerja bangunan. Ada pula yang memutuskan menjadi produsen batu bata.

Baca Juga :harga bata ringan

Sama seperti yang dijalani masyarakat di Dusun Kabul, Kecamatan Praya Barat Daya. Lahan-lahan pertanian disihir masyarakat jadi tempat “pabrik” batu bata merah. “Kan daripada lahannya dianggurin, mending jadi tempat pengerjaan batu bata,” kata Ahmad, masyarakat Dusun Kabul ke Suara NTB, Jumat, 30 Agustus 2019.

Menurut dia, jadi produsen batu bata sekarang ini semakin lebih janjikan. Serta, usaha itu sudah semenjak tahun-tahun ini dijalani. Hasilnya juga cukup memberikan kepuasan. Sangat tidak dapat penuhi tuntutan hidup setiap hari.

Sebab jika ingin mencari pekerjaaan lainnya, berbekal ketrampilan serta pengajaran yang dipunyai jelas akan susah. “Ingin kerja disawah, sedang kering. Ingin kerja lainnya pun tidak dapat. Opsi yang ada jadi pebisnis batu bata,” imbuhnya.

Ahmad akui dalam satu hari dia bersama-sama beberapa karyawan yang lain dapat membuahkan seputar 500 sampai 600 batu bata. Batu bata itu bahkan juga banyak yang dikirim ke banyak wilayah. Seperti Praya, Penujak serta banyak wilayah yang lain. Harga jual yang dibanderol juga cukup dapat dijangkau. Di antara Rp650 ribu sampai Rp750 ribu per seribu batu bata.

“Jika yang mengambil sendiri di tempat, kita kasih harga Rp650 ribu per seribu. Jika yang terima dalam tempat, harga Rp750 ribu,” katanya. Beda harga itu untuk biaya angkutan batu bata dan ongkos karyawan.

Dia akui, usaha itu bukan hanya ditekuni oleh dirinya. Ada banyak masyarakat yang memainkan usaha membuat batu bata. Karenanya barusan, ingin bertani tidak dapat. Karena musim kering. Meskipun memang benar ada sumber air baku di bendungan Pengga. Tapi tempatnya lumayan jauh serta tidak dapat dijangkau oleh petani.

READ  Tips Dapatkan Dispenser Galon Bawah Hemat Listrik

“Daripada buang-buang ongkos untuk bertani yang belumlah pasti sukses, lebih bagus kita pindah karier jadi pembikin batu bata,” pungkasnya.

Artikel Terkait :batu bata

Untuk bahan bakunya sendiri cukup melimpah. Faksinya umumnya ambi tanah dari gunung. Karena dipandang lebih baik daripada tanah sawah. Tentang hal air untuk mengeduk bahan baku batu bata, umumnya dibeli dengan harga Rp250 ribu pertangki. “Jika untuk air, kita umumnya membeli pertangki dengan harga Rp250 ribu,” lebih Ramli, pebisnis batu bata yang lain.

Ramli menambah, keinginan batu bata di musim saat ini juga condong lumayan tinggi. Sebab proyek-proyek banyak yang telah berjalan. Warga bangun rumah umumnya memutuskan di musim kemarau. Agar tidak terusik oleh musim. “Jika tengah banyak konsumen, satu hari kita dapat kirim sampai 3x. Ke tempat yang berlainan,” ujaranya.

Menurut dia, jadi pembikin bata batu adalah pekerjaan samping sepanjang musim kemarau saja. Jika pekerjaan yang paling penting selalu jadi petani. Kelak jika hujan telah turun serta musim tanam diawali, masyarakat kembali pada aktivitas awalannya jadi petani.

Comments are closed.